masukkan script iklan disini
BeritaWarga.Net|| Surabaya, — Bau tak sedap menyengat, lalat berkerumun, dan tumpukan sampah menggunung di depan pintu rumah, bukan pemandangan sesekali, melainkan keseharian warga Tembok Dukuh RT 10 RW 01, Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan. Padahal setiap bulan, dompet warga tetap ditarik iuran kebersihan secara rutin.
Fakta yang terungkap sungguh memprihatinkan, pengangkutan sampah bisa tertunda lebih dari seminggu sekali, hal ini dibenarkan langsung oleh Ketua RT setempat saat dikonfirmasi, Minggu (4/10/2026). Pengakuan itu bukan menenangkan, justru memantik amarah yang sudah lama dipendam warga.
"Bayar tetap, layanan hilang"
Warga tidak menolak berkontribusi. Mereka sadar kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Namun apa yang terjadi di sini bagaikan sebuah ketidakadilan yang terang-terangan. Sistem pemungutan iuran berjalan rapi dan tegas bahkan dikategorikan.
Warga kurang mampu, Rp 15.000
Warga mampu, Rp 25.000
Pemilik kendaraan roda empat, Rp 50.000
Klasifikasi ini tertata rapi, seolah-olah pengurus tahu persis siapa berkemampuan apa. Namun ketika tiba waktunya melayani mengangkut sampah ketelitian itu lenyap. Tumpukan dibiarkan berhari-hari, berminggu-minggu, tanpa pemberitahuan, tanpa penjelasan, tanpa permintaan maaf.
"Kami rutin bayar iuran, tapi sampah dibiarkan seminggu lebih numpuk di depan rumah. Baunya menyengat, lalat dimana-mana. Kalau ada kendala, sampaikan saja. Jangan diam saja seolah tidak terjadi apa-apa," keluh seorang warga yang enggan disebut namanya, mewakili perasaan banyak tetangganya.
Uang dipungut dengan ketegasan, namun pelayanan diserahkan begitu saja. Ini bukan sekadar keterlambatan teknis ini adalah kelalaian tanggung jawab. Jika pengurus mampu mencatat siapa yang harus membayar berapa rupiah, seharusnya mereka juga mampu memastikan sampah diangkut sesuai janji yang tersirat dalam setiap rupiah yang disetor.
Pertanyaan sederhana yang menuntut jawab
Pertanyaan yang kini bergema di setiap sudut gang Tembok Dukuh 8 sungguh sederhana. Kemana perginya uang itu?
Apakah iuran tersebut habis untuk biaya operasional pengangkutan? Jika ya, mengapa pelayanannya tidak ada? Apakah ada kendala anggaran atau penyaluran? Mengapa warga yang membayar tertib justru yang harus menanggung risiko lingkungan kotor, penyakit, dan ketidaknyamanan setiap hari?
Warga bukan meminta kemewahan. Mereka hanya menuntut hak paling dasar," Pungkas warga
Penulis : Tim
Baca juga:
"Berita Terbaru Lainnya"
"Berita Terbaru Lainnya"


